Connect with us

Digital

2025, Potensi Ekonomi Digital Bisa Mencapai US$ 240 Miliar

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan Indonesia merupakan pasar potensial terbesar ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara yang musti dimanfaatkan untuk peningkatan perekonomian nasional. Bahkan, diproyeksikan ekonomi digital dapat tumbuh empat kali lipat hingga mencapai US$ 240 miliar pada 2025 mendatang.

Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas mengatakan, Indonesia berada pada posisi utama tren perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara yang pertumbuhannya terus meningkat setiap tahun. Ekonomi digital menyediakan potensi besar dalam penciptaan kehidupan, di mana sekitar 30 juta orang di Tanah Air bekerja terkait dengan sektor e-commerce dan sebagian besarnya mampu memberdayakan potensi perempuan Indonesia.

“Diprediksi, pada 2025 ekonomi digital Indonesia tumbuh empat kali lipat dengan nilai mencapai US$ 240 miliar. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara, sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata dia, pekan lalu, Rabu (4/12/2019).

Menurut Suharso, potensi lain perubahan teknologi yang membawa manfaat sangat besar datang dari sejumlah perusahaan berbasis aplikasi, seperti Tokopedia dan Gojek. Kontribusi Tokopedia terhadap perekonomian Indonesia meningkat dari Rp 58 triliun pada 2018 menjadi Rp 170 triliun pada 2019, kemudian kontribusi mitra Gojek dari empat layanan (Go-Ride, Go-Car, Go-Food, Go-Life) kepada perekonomian Indonesia mencapai Rp 44,2 triliun.

Untuk menjawab tantangan kebutuhan ekonomi digital ini, Bappenas sedang berupaya menerapkan sistem kerja yang fleksibel melalui aplikasi smart office dan smart government. Mulai 2020 mendatang, di beberapa kedeputian akan menerapkan pola working and vacation sehingga tidak mewajibkan para pekerja untuk hadir di kantor.

“Saya berharap Bappenas itu bisa memberi pelayanan terkait perencanaan pembangunan nasional 24 jam. Tapi sayang kami baru rencanakan bisa 16 jam dari pukul 06.00-22.00 WIB. Kami berharap bisa bekerja dengan cara-cara flexible working time ini melalui aplikasi smart office dan smart government,” ujarnya.

Baca Juga:  Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Pastikan Persediaan BBM dan LPG Aman

Digital

Mobile Banking BCA Error, Ini Penyebabnya!

Published

on

Korporat.com

KORPORAT.COM, JAKARTA – Layanan mobile banking milik PT Bank Central Asia (BCA) sempat mengalami gangguan sejak Senin, (2/12/2019) malam. Nasabah yang terkendala banyak mengeluhkan tidak bisa melakukan transfer hingga cek saldo di media sosial.

Presiden Direktur BCA, Jahka Setiaatmadja mengatakan, penyebab gangguang pada mobile banking BCA lantaran sedang dilakukan pembaharuan.

“Kami memang melakukan upgradingdari salah satu data center kami, kemudian ada risiko itu,” ujarnya saat ditemui di Menara BCA, Jakarta Pusat, Senin, (3/12/2019).

Menurut Jahja, pembaruan data sistem di suatu mobile banking merupakan hal yang wajar. Jahja mengatakan, bisnis digital memang harus diperbarui guna meningkatkan layanan dan tidak diam di tempat.

Meski sempat eror, pihaknya memastikan layanan tersebut sudah beroperasi secara optimal saat ini.

“Memang ada sedikit gangguan, sempat kita pindahkan ke data center lainnya. Tapi saya rasa gangguan dari jam 7 malam sekitar jam 2 itu sudah teratasi, meskipun dampaknya masih ada sedikit-sedikit (yang eror), ya memang tidak semua,” jelasnya.

Jahja menambahkan, upgrading dilakukan untuk menambah fungsi dari m-Banking BCA yang nantinya bisa digunakan untuk melakukan top-up atau isi ulang kartu flazz tanpa harus ke ATM.

“Ini bocoran, kita persiapkan supaya flazz card kita bisa top up dengan aplikasi jadi tanpa harus ke ATM, sekarang kan harus ke ATM harus ke kantor cabang untuk top up flazz,” tukasnya.

Baca Juga:  Omnibus Law Dikhawatirkan Merusak Keragaman Hayati
Continue Reading

Digital

Mobile Banking BCA Error

Published

on

Korporat.com

KORPORAT.COM, JAKARTA – Nasabah PT Bank Central Asia (BCA) Tbk yang hendak menggunakan layanan Mobile Banking BCA atau m-BCA masih perlu bersabar. Sebab, layanan m-BCA masih mengalami gangguan teknis hingga sekarang.

Executive Vice President Secretariat and Corporate Communication BCA, Hera Haryn membenarkan atas kendala yang tengah dirasakan oleh para nasabahnya. Namun, ia belum mau menjelaskan alasan erornya layanan m-BCA.

“Saat ini, tim BCA berupaya untuk segera mengatasi permasalahan tersebut,” ujar Hera melalui siaran pers yang diterima Korporat.com di Jakarta, Selasa, (3/12/2019).

Menurut Hera, proses pemulihan masih dilakukan secara bertahap. Sembari menunggu, ia pun menyarankan agar nasabah menggunakan layanan aplikasi lain seperti internet banking, KlikBCA, Sakuku, Flazz, Debit BCA, atau Kartu Kredit.

Sebagai informasi, gangguan layanan m-BCA dilaporkan sejak Senin, (2/12/2019) malam. Sejumlah nasabah mengaku tak bisa bertransaksi lantaran lampu indikator yang selalu berwarna merah dan proses yang lama.

Selain itu, ada juga naabah yang mengeluhkan tak bisa bertransaksi dengan normal meski lampu indikator sudah berwarna hijau.

Baca Juga:  Medco E&P Rehabilitasi DAS Bukit Jambul
Continue Reading

Digital

Transaksi Nasabah BCA di Kantor Cabang Tinggal 1,8%

Published

on

Korporat.com

KORPORAT.COM, JAKARTA – Teknologi transaksi perbankan terkini yang semakin mudah dan efisien bagi nasabah kian diminati. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya transaksi melalui teknologi-teknologi transaksi terkini seperti internet banking, mobile banking. Akibatnya transaksi dengan gaya lama melalui kantor cabang (offline) makin ditinggalkan.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, Jahja Setiaatmadja mengatakan, jumlah nasabah yang melakukan transaksi di cabang BCA tinggal 1,8% dari jumlah keseluruhan transaksi. Jumlah ini turun drastis jika dibandingkan dengan tahun 2007 yang jumlahnya masih mencapai 17%.

“Dulu (transaksi) di cabang 17% sekarang 1,8%,” ujar Jahja saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta.

Selain itu, kata Jahja, transaksi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) juga turut tergerus.

“Dulu, (transaksi) melalui ATM saja 71%, sekarangkan 75% mobile banking dan internet banking,” katanya.

Kendati demikian, ia mengaku masih akan tetap membuka kantor cabang. Sebab, uang tunai masih diperlukan. Namun, angka pembukaan cabang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

“Cabang itu tetap ada karena kan masih dibutuhkan uang tunai, tarikan dan setor dalam jumlah besar. Cabang tidak sampai 100, paling sekitar 20 yah,” pungkasnya.

Baca Juga:  Suap Distribusi Gula PTPN III, KPK Panggil Madya B Prastyawan
Continue Reading

POPULAR