Connect with us

News

Erick Thohir Beberkan Penyelundupan Moge di Pesawat Garuda Sore Ini

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir bakal membeberkan hasil investigasi penyelundupan motor gede (Moge) melalui kargo pesawat Garuda Indonesia. Erick akan didampingi oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Berdasarkan agenda yang tersiar di kalangan media, hasil investigasi ini bakal dibeberkan dalam Konferensi Pers yang rencananya bakal digelar di Lobi Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat pada Kamis, (5/12/2019) pukul 15.30 WIB.

Sebagai informasi, komponen motor Harley Davidson (HD) bekas dan dua buah sepeda Brompton baru berhasil diselundupkan di pesawat Garuda Indonesia jenis Airbus A330-900. Pesawat jenis tersebut diketahui merupakan pesawat yang baru saja dipesan oleh perseroan.

Kabar teranyar, barang-barang yang diangkut pesawat Garuda tersebut dimiliki oleh penumpang berinisial SAW dan LS. Inisial tersebut memang merujuk pada orang-orang yang terdaftar dalam daftar penumpang pesawat (manifest).

Dalam daftar memuat sejumlah nama, termasuk direksi Garuda. Berikut daftarnya:

1. I Gusti Ngurah Askhara (Direktur Utama Garuda)

2. I Gusti Ayu Rai Dyana Dewi

3. Iwan Joeniarto (Direktur Teknik dan Layanan Garuda)

4. Etty Rasfigar

5.Ratih Agustanti

6. Mohammad Iqbal (Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha)

7. Retno Bayusari Sukradewi

8. Heri Akhyar (Direktur Capital Human)

9. Widyasih Tumono

10. Diah Seruni Rizqiana Wulansari

11. Lokadita Sedimesa Brahmana

12. Simon Theo Pimpin Nainggolan

13. Satyo Adi Swandhono

14. Nova Wijayanti Ponardi

15. Muhammad Fuad Rasyidi

16. Sugiono

17. Martha Emyua Taurisia

18. Judis Priastono Utama

19. Joe Surya

20. Alberto Blanco Lopez

21. Laurent Jean Yves Godin.

Baca Juga:  KPK dan BPK Sepakat Usut ASABRI

Hukum

Tepis Presiden Terlibat, Luhut Usul Koruptor Jiwasraya Dimiskinkan

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA– Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menepis tudingan isu yang menyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlibat skandal korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

“Media jangan bikin berita gorengan. Presiden tidak ada kaitannya lah,” kata Luhut di Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Bahkan Luhut mengusul agar pelaku korupsi Jiwasraya dihukum dengan cara dimiskinkan.

“Orangnya ditindak, kalau saya usul bisa tidak orang-orang itu dimiskinkan biar kapok. Jangan hanya hukum penjara lima tahun uang berbunga terus,” ujar dia

Luhut meyakini, bawah dengan teknologi yang semakin canggih, kasus yang telah menggeret lima tersangka tersebut dapat ditelusuri dengan jelas.

“Pasti kena semua,” tegas Luhut.

Baca Juga:  Kebutuhan Listrik untuk 51 Smelter Capai 4.204 MW
Continue Reading

Hukum

Mahasiswa UMRAH Tuntut Penambang Bauksit Peduli Lingkungan

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA-Presiden Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (Presma UMRAH), Rindi Apriadi mengingatkan pengusaha yang mendapatkan kuota ekspor bauksit 2,2 juta ton ke China untuk memperhatikan lingkungan di lokasi pertambangan.

“Jangan sampai peristiwa buruk akibat pertambangan di Bintan belum lama ini terjadi di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga,” katanya di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (17/1/2020)

Ia menegaskan potensi kerusakan lingkungan akibat pertambangam bauksit cukup besar. Buktinya, lingkungan di lokasi pertambangan bauksit di Desa Langkap dan Desa Pengambil, Singkep Barat, yang dikelola PT Telaga Bintan Jaya sejak tahun 2008 masih dalam kondisi rusak.

Rindi merasa aneh perusahaan itu mendapatkan kuota ekspor bauksit dari Kementerian Perdagangan pada Juli 2019. Izin itu berlaku sampai setahun.

Izin itu ditandatangani oleh Pelaksana Harian Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Karyanto Suprih. Ia mempertanyakan apakah penetapan kuota ekspor dapat diteken oleh pelaksana harian.

“Kami belum melihat ada pembangunan ‘smelter’. Artinya, bauksit kembali dijual mentah ke China,” katanya.

PT Telaga Bintan Jaya (TBJ) sampai sekarang belum membangun “smelter” bauksit di Desa Langkap dan Desa Pengambil, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, meski sudah beroperasi sejak tahun 2008.

Pemilik PT Telaga Bintan Jaya, Suryono, mengatakan, perusahaannya mengalami beragam kendala untuk membangun “smelter” saat masih melakukan pertambangan bauksit. Kendala yang dihadapi seperti perubahan regulasi.

“Ada perubahan regulasi yang menyebabkan kami kesulitan membangun ‘smelter’,” katanya, yang juga pengusaha perumahan terbesar di Kota Tanjungpinang.

Suryono yang menguasai lahan lebih dari 1.000 hektare itu sejak beberapa bulan lalu sudah mulai beraktivitas kembali, melakukan pertambangan bauksit di Singkep Barat.

Ia mengaku sudah menggandeng pengusaha asal China untuk membangun “smelter” dan kawasan perindustrian di daerah itu. Namun saat ini, lahan untuk pembangunan “smelter” masih sebatas pengerasan lahan.

Baca Juga:  Kasus Jiwasraya, Kejagung Cekal 10 Orang

Meski demikian sejak Juli 2019, PT TBJ memperoleh kuota ekspor bauksit seberat 2,2 juta ton ke China. Pengurusan izin tersebut dibantu oleh yang disebutnya “orang pusat”.

“Tidak banyak saya keluarkan uang untuk mendapatkan kuota ekspor bauksit tersebut,” katanya.

Suryono tidak dapat memberi kepastian kapan “smelter” tersebut dibangun. Namun ia memastikan investor yang dibawanya serius.

Namun ia tidak dapat menjawab berapa cadangan bauksit yang ada di Dabo.

“Butuh Rp7-8 triliun untuk membangun ‘smelter’. Saya tidak mampu, karena itu saya bawa investor,” katanya.

Ia mengemukakan aktivitas pertambangan bauksit di Singkep Barat juga mengalami banyak kendala. Ia khawatir hingga Juli 2020 belum dapat melakukan ekspor lantaran dihalangi berbagai permasalahan.

Permasalahan yang dihadapi bukan persoalan perizinan, melainkan ancaman dari berbagai pihak yang menginginkan agar dapat menjual bauksit kepadanya.

“Ada pihak-pihak tertentu memaksa saya untuk membeli bauksit mereka. Itu ‘kan melanggar hukum. Kalau tidak dibeli, mereka jamin, saya tidak dapat ekspor bauksit,” katanya.

Selain persoalan itu, pihak lainnya juga memaksa agar dapat mengambil alih kuota tersebut. Mereka ingin bekerja jika ia tidak berani melakukan ekspor.

“Ada juga warga yang menumpang di tanah saya minta ganti rugi kalau saya melakukan pertambangan. Ini ‘kan aneh, saya punya lahan, tetapi saya harus ganti rugi kepada warga,” katanya.

Suryono juga belum membayar sebagian dana jaminan reklamasi pascatambang. “Ini juga persoalan karena butuh biaya yang besar. Terus terang saja, saya maju-mundur menghadapi permasalahan ini, apakah berani ekspor atau tidak,” katanya.

Ant

Continue Reading

Hukum

Petugas Periksa Pencemaran Limbah Batik di Yogyakarta

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA– Guna menindaklanjuti aduan masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan,
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan uji laboratorium dari sampel air dan limbah batik di sentra kerajinan bantik Desa Ngentakrejo, Kecamatan Lendah.

Kepala Dinas Lingkungn Hidup (DLH) Kulon Progo Arif Prastowo mengatakan, DLH bersama Dinas Perdagangan, Dinas Kesehatan serta Puskesmas Lendah, serta Polsek dan Koramil Lendah melakukan pengecekan ke lokasi industri batik dimaksud serta warga terdampak.

“Saat ini, kami masih menunggu hasil cek laboratorium dari sampel air yang telah diambil dari beberapa sumur di sekitar rumah produksi batik di wilayah Desa Ngentakrejo,” kata Arif Jumat, 917/1/2020)

Ia mengatakan pihaknya mendapat aduan dari masyarakat adanya penurunan kualitas lingkungan hidup karena limbah produksi batik di wilsyah tersebut. Berdasar aduan warga, dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup dirasakan langsung warga yang tinggal di sekitar rumah produksi.

“Warga terdampak merasakan ada perubahan kualitas air sumur yang menjadi keruh, berbau dan gatal-gatal bila mengenai anggota tubuh,” katanya.

Ia nengatakan dari petugas DLH yang melakukan cek lapangan menemukan beberapa catatan terhadap pengelolaan limbah batik di rumah produksi batik.

Dari hasil pengamatan di salah satu rumah produksi didapati tidak ada sistem pengelolaan limbah, limbah batik langsung dibuang begitu saja di tanah tanpa melalui proses pengolahan.

Meski demikian, DLH tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa perubahan kualitas lingkungan yang terjadi pada warga sekitar rumah produksi merupakan dampak dari kegiatan produksi batik.

“Kami masih menunggu hasil cek laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kulon Progo yang akan menjadi dasar apakah ada pencemaran atau tidak,” demikian Arif Prastowo.

Baca Juga:  Pupuk Kaltim Manfaatkan Gudang Berteknologi Modern
Continue Reading

POPULAR