Connect with us

Keuangan

Tanggap Corona, PKS Sepakat Gelontorkan Dana BLT Pada Masyarakat

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA-Menanggapi rencana Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang akan melakukan stimulus ekonomi dengan mengucurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), anggota DPR Komisi XI dari Fraksi PKS, Anis Byarwati mengaku sepakat dengan wacana itu.

Menurutnya, program BLT menjadi instrumen penting dan efektif untuk mendorong kemampuan daya beli masyarakat ditengah keterpurukan wabah Corona (Covid-19).

“Salah satu cara efektif dalam meningkatkan daya beli saat perekonomian sulit adalah memberikan BLT untuk mendorong konsumsi,” unģkapnya di Jakarta (25/3/2020)

Adapun alokasi dananya, jelas Anis, bisa dialihkan dari anggaran perjalanan dinas pemerintah. Sebab kegiatan dinas ke luar negeri atau antar daerah telah dihentikan sementara waktu. Berdasarkan data, anggaran perjalanan dinas dalam APBN 2020 mencapai Rp43 triliun.

“Dana tersebut bisa dialihkan untuk program BLT,” katanya.

Selain itu, Anis mendorong pemerintah agar juga bisa memberikan bantuan lain selain memberikan BLT.

“Pemerintah juga bagus jika dapat menambah bantuan pangan nontunai. Jumlah beras yang dapat diperoleh masyarakat bisa ditambah,” pungkasnya.

Baca Juga:  Negara-Negara Lockdown Dari Virus Corona

Keuangan

Paket Ekonomi Stimulus Corona Gagal, PKS: Segera Glontorkan BLT

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA-Anggota DPR RI Komisi XI dari Fraksi PKS, Anis Byarwati menilai sejumlah paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan oleh Pemerintah guna mendorong daya beli masyarakat di tengah wabah Corona, tidak berjalan efektif.

“Walau pun belum lama ini pemerintah mengeluarkan stimulus kebijakan fiskal jilid 1 dan jilid 2. Namun faktanya, stimulus ini tidak mampu mendorong daya beli masyarakat. Padahal, pemerintah perlu mendorong daya beli masyarakat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi domestik di saat investasi menurun,” kata Anis secara tertulis, Jumat (27/3/2020).

Menurut Anis, program yang mampu menjangkau masyarakat secara langsung yakni berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), kebijakan ini diyakini akan jauh lebih efektif membangun gairah ekonomi rakyat.

“Apa yang disampaikan Presiden Jokowi tentang relaksasi kredit UMKM, penundaan cicilan yang berlangsung selama 1 tahun serta penurunan bunga, tidak mampu mendorong daya beli masyarakat. Salah satu cara efektif dalam meningkatkan daya beli saat perekonomian sulit adalah memberikan BLT,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Presiden Jokowi telah menyatakan relaksasi kredit UMKM di bawah Rp10 miliar, penundaan cicilan berlangsung selama 1 tahun serta penurunan bunga dalam upaya menanggulangi ekonomi akibat wabah Corona.

Baca Juga:  Beruntung Jika Tim Kerja Terdiri Dari Lintas Generasi
Continue Reading

Keuangan

Siapa Saja yang Bisa Libur Bayar Cicilan Kredit?

Published

on

UMKM

KORPORAT.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan mengenai relaksasi bagi debitur yang terdampak virus corona. Aturan ini tercantum dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional.

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa debitur yang mengalami kesulitan pembayaran utang kepada bank karena wabah corona diperbolehkan libur bayar cicilan selama 1 tahun. Maksudnya, debitur boleh menunda pembayaran tagihan sampai dengan satu tahun. Namun jumlah kewajiban tagihannya tetap sama.

Lantas siapa saja yang bisa libur bayar cicilan kredit?

Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo menjelaskan, debitur yang mendapatkan perlakuan khusus dalam POJK ini adalah debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi pembayaran utang kepada bank karena terdampak virus corona, termasuk juga debitur UMKM.

Bisa dari sektor pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, pengolahan, pertanian, dan pertambangan. Pemberian perlakuan khusus tersebut tanpa melihat batasan plafon kredit/pembiayaan.

“Dalam POJK ini jelas diatur bahwa pada prinsipnya bank dapat melakukan restrukturisasi untuk seluruh kredit/pembiayaan kepada seluruh debitur, termasuk debitur UMKM, sepanjang debitur-debitur tersebut teridentifikasi terdampak virus corona,” ujarnya dalam keterangan, pada Kamis (26/3/2020).

Anto kembali menegaskan bahwa libur bayar cicilan yang dimaksud lebih ditujukan pada debitur kecil, yakni sektor informal, usaha mikro, pekerja berpenghasilan harian yang memiliki kewajiban pembayaran kredit untuk menjalankan usaha mereka.

“Misalkan pekerja informal yang memiliki tagihan kepemilikan rumah dengan tipe tertentu atau program rumah sederhana, pengusaha warung makan yang terpaksa tutup karena ada kebijakan WFH (work from home),” sambungnya.

Adapun skema kelonggaran kredit ini diserahkan sepenuhnya kepada bank dan bergantung pada hasil identifikasi bank atas kinerja keuangan debitur ataupun penilaian atas prospek usaha dan kapasitas membayar debitur yang terdampak virus corona.

Baca Juga:  Lagi, 2 WNI Positif Corona

“Jangka waktu restrukturisasi ini sangat bervariasi bergantung pada asesmen bank terhadap debiturnya dengan jangka waktu maksimal satu tahun,” pungkasnya.

Selanjutnya bagaimana cara dan syaratnya agar debitur bisa mendapatkan libur bayar kredit?

a. Debitur wajib mengajukan permohonan restrukturisasi melengkapi dengan data yang diminta oleh bank/leasing yang dapat disampaikan secara online (email/website yang ditetapkan oleh bank/leasing) tanpa harus datang bertatap muka.

b. Bank/Leasing akan melakukan asesmen, antara lain terhadap apakah debitur, termasuk yang terdampak langsung atau tidak langsung, historis pembayaran pokok atau bunga, kejelasan penguasaan kendaraan (terutama untuk leasing).

c. Bank/Leasing memberikan restrukturisasi berdasarkan profil debitur untuk menentukan pola restrukturisasi atau perpanjangan waktu, jumlah yang dapat direstrukturisasi, termasuk jika masih ada kemampuan pembayaran cicilan yang nilainya melalui penilaian dan/atau diskusi antara debitur dengan bank/leasing.

Continue Reading

Keuangan

Kamu Yang Dikejar Pinjol dan Kredit, Ini Cara Mengatasi Masalah Keuangan

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA– Masalah keuangan dapat menimpa siapa saja karena ia bukan ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan atau gaji yang didapatkan setiap bulannya, melainkan faktor gaya hidup dan ketidak mampuan mengelola keuangan.

Oleh karena itu, jika kamu sedang mengalami masalah keuangan yang tak kunjung membaik, coba terapkan cara mengatasi masalah keuangan berikut ini. 

#Rencanakan Keuangan Bulanan#
Kondisi keuangan yang tidak stabil kerap kali terjadi karena tidak ada kejelasan anggaran yang perlu dikeluarkan setiap bulannya. Oleh karena itu, kamu harus membuat daftar anggaran setiap bulannya, pisahkan uang berdasarkan kebutuhannya dan tulis secara detail jumlah pemasukan dan pengeluaran.

Dengan begitu, kamu akan lebih mudah mengontrol kebutuhan apa saja yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa ditunda. Satu lagi, tetap disiplin pada anggaran yang sudah kamu buat. 

#Kurangi Pengeluaran Yang Bukan Pokok#
Kebiasaan membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting adalah salah satu penyebab masalah keuangan yang mungkin sedang kamu alami. Jika ingin keluar dari masalah ini, hindari kebiasaan buruk tersebut. Memang tidak mudah, tapi cara ini akan membantumu keluar dari masalah keuangan. 

#Batasi Cicilan dan Utang#
Pada dasarnya, penggunaan kartu kredit ditujukan untuk mempermudah hidup, bukan malah sebaliknya. Biasanya hal ini terjadi ketika kamu tidak bisa mengontrol pemakaiannya, yang membuat kamu terlilit utang setiap bulannya. Bahkan pada perkembangan kekinian, banyak orang yang terlilit Pinjaman Online (Pinjol) dan diteror-teror, mengerikan bukan.

Karenanya, jika kamu sudah terlanjur memiliki cicilan yang perlu dibayarkan, segeralah lunasi utang setelah mendapatkan gaji. Kemudian, usahakan untuk tidak berutang kembali, kecuali jika digunakan untuk hal-hal yang penting, misalnya seperti bisnis dan lainnya.

#Miliki Uang Simpanan#
Ketidakadaan uang simpanan bisa menjadi salah satu penyebab kondisi keuangan kamu menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, sisihkan sekitar 30 persen dari gaji yang didapatkan. Pisahkan uang simpanan di rekening khusus dan usahakan untuk tidak memakainya.

Bahkan idealnya kamu harus memiliki uang simpanan minimal untuk 3 bulan keperluan biaya hidup jika sewaktu-waktu kamu mendadak tidak punya penghasilan bulanan.

Cadangan tersebut sangat krusial agar selama waktu 3 bulan kamu dapat berfikir dengan jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Bisa dibayangkan jika pada saat krusial itu kamu tidak memiliki uang simpanan, kondisi kamu akan sangat tergoncang dan dapat mengambil tindakan atau keputusan brutal

Baca Juga:  Korupsi Jiwasraya, BPK: Kerugian Negara Rp16,81 Triliun
Continue Reading

POPULAR