Connect with us

Bank

Masih Kurang Longgar, BRI Berharap BI Kembali Turunkan Suku Bunga

Dadangsah Dapunta

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso berharap Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate.

Sunarso memperkirakan, jika hal itu dilakukan, selain tentunya berdampak positif bagi pasar, itu juga akan mendorong ekspansi perbangkan dalam penyaluran kredit.

“Kalau BI Rate turun saya pikir bagus untuk market karena kami melihatnya bahwa sebenarnya sekarang ini pricingnya turun, tetapi kami menghadapi kenyataan bahwa LDR (industri) masih di atas 90 persen,” katanya di Gedung BRI, Jakarta, Kamis.

Meskipun ia tidak mengetahui kapan pihaknya akan memangkas suku bunga kredit BRI lagi, namun ia berharap melalui penurunan suku bunga acuan BI itu bisa diikuti dengan langkah relaksasi kebijakan lain agar lebih akomodatif.

“Dengan penurunan BI rate diharapkan ada relaksasi-relaksasi nanti,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, sepanjang 2019 BI telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan.

Pertama kali pada Juli 2019 dari 6 persen menjadi 5,75 persen. BI kembali menurunkan suku bunga acuan untuk kedua kali pada Agustus 2019 sebesar 0,25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Terakhir, BI memutuskan untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan pada September sebesar 25 basis poin sehingga kini menjadi 5,25 persen.

Selain itu, BI juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility dan lending facility sebesar 25 bps sehingga masing-masing menjadi 4,50 persen dan 6,00 persen.

Baca Juga:  Kabinet Kerja II, Basuki Tetap Kerjain PUPR

Bank

Fintech yang Tawarkan Transfer antar Bank Kian Menjamur, Ini Respon BCA

Restu Fadilah

Published

on

Korporat.com

KORPORAT.COM, JAKARTA – Financial technology (Fintech) di Indonesia kian menjamur. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menawarkan jasa transfer antar bank secara gratis. Akibatnya, banyak masyarakat yang bertransaksi sebanyak-banyaknya di luar sistem perbankan.

Direktur PT Bank Central Asia (BCA), Santoso mengatakan, fenomena tersebut bukan ancaman bagi eksistensi bank. Sebab, limit transfer di fintech tidak terlalu besar. Itu artinya, transaksi dengan nominal yang besar masih tetap dilakukan di bank.

“Sebetulnya kalau fintech sekarang kan yang masih bisa dilakukan kan hanya emoney server based. Emoney server based sendiri limitnya tidak terlalu besar,” kata dia saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin, (11/11/2019).

Meski demikian, ia mengaku akan terus mengikuti semua perkembangan fintech tersebut. Tujuannya, agar BCA bisa terus berinovasi sesuai perkembangan jaman. Sehingga bisa bersaing dengan para fintech.

“Semua ada masanya kan sebetulny fintech itu ingin mengumpulkan data melihat loyalitas customur, tapi perjalananya akan terus menerus kita ikuti dan kita tidak saling mematikan, kita saling mendukung yang lain,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Presiden Direktur BCA, Jahja Setiatmadja dalam kesempatan yang sama. Menurutnya, BCA selama ini selalu memberikan pelayanan yang optimal bagi para nasabah. Salah satunya dengan membuat fitur yang canggih.

Jahja bilang, banyak fitur yang sudah dibuat BCA untuk dipergunakan oleh nasabah milenial. Salah satunya, seperti fitur perbankan digital.

“Sekarang kaum milenial itu lebih banyak menggunakan Digital Bank, misalnya untuk Top Up bisa pakai OneKlik,” ujarnya.

Mengenai fitur payment, BCA sudah mengeluarkan mesin QR, tinggal scan barcode selesai.

“Dulu belum bisa transfer cepat harus ketik-ketik nomor rekening, sekarang tinggal scan saja bisa kok,” lanjutnya.

Baca Juga:  WSKT Sabet Penghargaan WSO Award 2019

Selain itu, BCA juga meluncurkan Keyboard BCA. Dengan menggunakan keyboard ini, para nasabah bisa melakukan beberapa kegiatan seperti chating di WhatsApp, Line atau Telegram pada saat transaksi, tanpa harus keluar dari jendela transaksi.

“Kalau beberapa bank lain harus keluar aplikasi dulu terus masuk lagi baru bisa transaksi, kalau kita tidak,” jelasnya.

“Sekarang memang kita berikan pelayanan yang nyaman dan bisa digunakan di mana saja,” tutup Jahja.

Continue Reading

Bank

BCA Luncurkan Kartu Kredit BCA-JCB Black

Restu Fadilah

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – PT Bank Central Asia (BCA) meluncurkan kartu kredit BCA-JCB Black. Peluncuran produk ini untuk memudahkan masyarakat yang doyan plesir ke Jepang.

Presiden Direktur (Presdir) BCA, Setiatmadja menjelaskan, kartu kredit BCA-JCB Black dapat mengakomodir kebutuhan keuangan yang berkaitan dengan transaksi, perjalanan, dan pembelian produk di merchant-merchant domestik dan di negeri sakura tersebut.

“Target pemegang Kartu Kredit BCA-JCB Black menyasar segmen kaya, khusus individu atau keluarga yang bepergian dan membeli di luar negeri,” ujarnya di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Senin, (11/11/2019).
Dalam meluncurkan kartu kredit BCA-JCB Black, perusahaan menggandeng ICB Internasional Indonesia sebagai anak perusahaan dari JCB internasional Co. Adapun dalam peluncurannya, BCA mempertimbangkan tren peningkatan masyarakat Indonesia yang kerap bepergian ke Jepang.

Berdasarkan data dari Japan National Tourism Organization, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Jepang terus mengalami kenaikan. Pada 2017, terdapat 356.000 wisatawan Indonesia, melonjak 30 % dari tahun sebelumnya. Musim Semi 2018, saat bunga-bunga Sakura bermekaran, wisatawan Indonesia yang berkunjung mencapai lebih dari 43.000 orang per bulan.

“Kerjasama BCA dengan JCB ini merupakan langkah strategis untuk melengkapi pengalaman perjalanan nasabah BCA, dan mempermudah proses transaksi bisnis nasabah secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, Kartu Kredit BCA-JCB Black diharapkan dapat mengoptimalkan nilai tambah yang dapat dinikmati nasabah BCA,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur BCA, Santoso menjelaskan, kartu kredit BCA-JCB Black juga bisa digunakan di negara lain. Asalkan terdapat logo JCB di merchant yang dituju.

“Jadi bukan hanya di Jepang, tapi juga bisa di negara lain asalkan ada logo JCBnya,” ucap Santoso.

Sebagai informasi, kartu kredit BCA-JCB black memiliki penawaran eksklusif untuk nasabah BCA, antara lain ganjaran ganda pada transaksi ritel dan kurs valuta kompetitif bagi para nasabah yang akan berpergian ke Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, untuk transaksi internasional terdapat program cicilan 0% hingga 12 bulan dengan minimum transaksi sebesar Rp 3 juta.

Baca Juga:  Kabinet Kerja II, Basuki Tetap Kerjain PUPR

Pemegang kartu kredit BCA-JCB black juga mendapatkan berbagai manfaat dan variasi layanan global yang berlaku pada kartu JCB domestik dan internasional, antara lain fasilitas lounge bandara eksklusif gratis di Jepang, China, Hong Kong, Singapura, Korea, dan Thailand. Kemudian, nasabah juga dapat menikmati JCB Plaza Lounge pada beberapa tujuan destinasi dan penerbangan kelas dunia: Tokvo Paris, Honalulu, Hong Kong, Guam, dan Singapura. Manfaat yang tidak kalah menarik lainnva ialah potongan harga pada berbagai merchant pilihan dan tempat makan domestic dan internasional vane bekerja sama dengan JCB.

Continue Reading

Bank

BCA Luncurkan Bank Digital Tahun Depan

Restu Fadilah

Published

on

Korporat.com

KORPORAT.COM, JAKARTA – PT Bank Central Asia (BCA) sungguh-sungguh menyulap Bank Royal menjadi bank digital. Jika tak ada aral melintang, BCA bakal meluncurkan bank digital pada Juni 2020.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, saat ini pihaknya masih merampungkan proses akuisisi sembari menunggu proses perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Bank Royal akan kami proyeksikan sebagai bank digital, saat ini kami masih merampungkan proses akuisisi. Juni 2020 akan mulai trial digital operation,” ujarnya di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Senin, (28/10/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur BCA, Vera Eve Lim menjelaskan, Bank Royal akan tetap menjadi entitas mandiri, alias tidak melebur dengan BCA. Namun, bisnis digital Bank Royal akan terintegrasi dengan BCA.

“Juni setidaknya layanan basic banking sudah siap, kasih kredit, setor dana, transfer dana, pemindahbukuan, top up, investasi tapi semua prosesnya secara digital. Dan kalau mau tarik tunai nanti bisa pakai ATM BCA,” terangnya.

Diakuinya, BCA juga memang memiliki platform digital. Namun, sasaran pasar yang dibidik Bank Royal kelak akan berbeda. Misalnya BCA akan fokus pada pemberian kredit ke segmen korporasi, sedangkan Bank Royal kelak bakal lebih menyasar segmen ritel, atau mass market.

Baca Juga:  Panggil Kadiv Aset Perindo, KPK Dalami Kasus Impor Ikan
Continue Reading

POPULAR