Connect with us

Korporasi

Medco E&P Rehabilitasi DAS Bukit Jambul

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – PT Medco E&P Indonesia mengumumkan telah berhasil menggelar program rehabilitasi daerah alian sungai (DAS) Bukit Jambul Semendo di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan dengan luas lahas mencapai 124,99 hektare (ha). Perusahan tersebut telah melakukan penanaman kembali sejumlah lahan di daerah aliran sungai dengan menanam 840 batang pohon per ha.

Drajat Panjawi, VP Relations & Security Medco E&P mengatakan, kegiatan rehabilitasi tersebut berhasil dilaksanakan lantaran pihaknya bekerja sama dengan seluruh stake holder antara lain, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta masyarakat setempat. “Kami berharap melalui rehabilitasi DAS kelestarian ekosistem dapat terus terjaga dan, kerja sama dalam melestarikan lingkungan ini bisa terus ditingkatkan,” ujar VP Relations & Security Medco E&P Drajat Panjawi.

Kegiatan tersebut menjadi bukti komitmen Perusahaan dalam melindungi lingkungan di sekitar wilayah operasi. Medco E&P merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).

Sebagai tanda keberhasilan Medco E&P ini, Pemerintah melalui KLHK diwakili oleh SesDirjen PDASHL, Yuliarto Joko Putranto menerima Penyerahan Kewajiban Rehabilitasi DAS dari Medco E&P yang diwakili oleh GM South Sumatera Region, Muhammad Zulkfli, pada 31 Desember 2019. Selanjutnya, KLHK menyerahkannya kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Pandji Tjahjanto.

Pada kesempatan yang sama, SesDirjen dan Kepala Dinas Kehutanan Sumsel berterima kasih kepada Medco E&P karena dengan penyerahan kewajiban rehabilitasi DAS ini, luas hutan di Indonesia menjadi bertambah 124,99 ha dan hal ini juga dapat mengatasi masalah lingkungan dan sosial di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Bikin Gas Batubara, PTBA dan Air Products Siapkan US$ 3,2 M

Korporasi

Rekrut Putra-Putri Papua, 12 Orang Jalani Induksi di Pupuk Indonesia

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA– Sebanyak 12 putra-putri Papua mengikuti program induksi perekrutan di PT Pupuk Indonesia (Persero). Program induksi ini merupakan rangkaian dari Program Perekrutan Bersama (PPB) BUMN untuk putra-putri Papua dan Papua Barat yang digelar Kementerian BUMN, berkolaborasi dengan Forum Human Capital Indonesia (FHCI).

Program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Joko Widodo pada September 2019 lalu, dimana Presiden memandatkan agar dilaksanakan perekrutan tenaga kerja putra-putri terbaik Papua dan Papua Barat untuk ditempatkan di wilayah kerja BUMN di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk mendukung pemerataan kesempatan kerja bagi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Tercatat, ada 522 putra-putri Papua dan Papua Barat yang saat ini tengah mengikuti pembekalan kerja. Nantinya semua peserta akan dipekerjaakan pada 38 BUMN.

Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero) Wijaya Laksana mengatakan, 12 putra-putri terpilih ini akan mengikuti program induksi di Kantor Pupuk Indonesia selama kurang lebih 10 hari dengan kurikulum atau materi-materi untuk kebutuhan kompetensi. Program Induksi sendiri merupakan program pematangan calon karyawan untuk dapat memulai bekerja di dunia praktis. Sebelumnya, para kandidat juga telah melewati tahapan program Bimbingan Fisik dan disiplin di Bela Negara di Pusat Pendidikan Zeni TNI – Ad Bogor, Jawa Barat.

“Mereka akan dibekali wawasan seputar perusahaan, tugas, hingga industri pupuk secara umum. Lewat induksi ini Kami ingin membentuk talenta-talenta terbaik asal Papua ini menjadi insan BUMN yang berkarakter, berintegritas dan berdaya saing,” kata Wijaya disela acara Pembukaan Program Induksi Perekrutan Putra-Putri Papua dan Papua Barat, di Kantor PT Pupuk Indonesia, Senin (24/2/2020).

Turut hadir dalam acara pembukaan tersebut Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia, Imam A. Putro, Direktur SDM dan Tata Kelola Winardi, Direktur Transformasi Nugroho Christijanto, dan Direktur Investasi Gusrizal.

Wijaya menambahkan, setelah para perserta rekrutmen melalui program induksi, akan dilanjutkan dengan penempatan kerja di beberapa anggota holding Pupuk Indonesia Grup, seperti PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Sriwidjaja, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang Cikampek, dan PT Rekayasa Industri.

“Mereka akan dilibatkan dalam proses bisnis di perusahaan Anggota Holding, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar terkait proses bisnis dan budaya perusahaan. Sehingga ke-12 Putra-Putri terbaik Papua yang kita rekrut bisa turut memberikan kontribusi dan kinerja terbaik sesuai dengan penempatan perusahaan untuk kemajuan negeri,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemerintah Harus Selesaikan Kebijakan Nasional Pertambangan
Continue Reading

Korporasi

Virus Corona Tak Pengaruhi Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan, virus corona atau covid-19 dari Wuhan tidak mempengaruhi pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Ia menegaskan pengerjaan proyek kereta cepat dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) masih akan sesuai target.

Soal wabah virus corona, Budi mengklaim, pihaknya telah berkoordinasi dengan KCIC dan memastikan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tetap berjalan sesuai rencana dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal.

“Saya tegaskan di sini bahwa pemerintah tetap mentargetkan proyek kereta cepat ini selesai akhir 2021. Soal ada virus Corona di China, kita tetap berjalan dan tidak terganggu dengan adanya tenaga dan peralatan dari China,” ujarnya di Purwakarta pada Minggu, (23/2/2020)

Kata Budi, progres pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sudah mencapai 44%, sedangkan untuk pembebasan lahan sendiri sudah mencapai 99,96%. Masih ada sebidang di daerah Bandung yang sedang dalam tahap konsinyasi.

Dalam kesempatan tersebut, Budi berpesan kepada KCIC sebagai pelaksana proyek agar pekerjaan ini dapat diselesaikan tepat waktu.

“Satu, harus on time. Yang kedua, mesti ada alih teknologi, dan ketiga adalah jaga hubungan dengan masyarakat banyak dan teamwork harus diperhatikan,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT KCIC Chandra, Dwiputra memastikan, pihaknya telah mengantisipasi adanya sejumlah kondisi tanah yang rawan atau labil di beberapa titik di Jawa Barat. Selain faktor tanah, menurut faktor cuaca ekstrem yang sedang terjadi akhir-akhir ini juga telah diantisipasi oleh PT KCIC. Sehingga diharapkan tidak akan mempengaruhi proses pengerjaan proyek.

“Jadi yang rawan sudah kita mitigasi. Kita sudah antisipasi hal tersebut,” jelasnya.

Sebagai informasi, PT KCIC tengah mengerjakan sebanyak 13 Tunnel atau terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Nantinya Kereta Cepat Jakarta Bandung akan memiliki panjang mencapai 142,3 km dengan empat stasiun pemberhentian, yakni Stasiun Halim, Karawang, Walini, hingga Tegalluar, Bandung.

Baca Juga:  Grab Luncurkan Armada Mobil Elektrik

Dari jalur tersebut sebanyak 80 km dibangun layang atau elevated. Sedangkan, sisa jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung digarap di atas tanah yang di antaranya melalui tunnel atau terowongan yang menembus bukit. Dengan keberadaan Kereta ini, waktu tempuh Jakarta-Bandung akan lebih cepat yaitu sekitar 46 menit dengan kecepatan sekitar 350 km/jam. 

Continue Reading

Korporasi

Industri Manufaktur Dalam Negeri Semakin Lemah, Kenapa?

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Industri manufaktur di dalam negeri semakin melemah. Pada Oktober 2019, Indeks manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dilaporkan IHS Markit berada pada level 47,7. Hal ini rupanya ditenggarai oleh ketidakberpihakan pemerintah terhadap industri manufaktur dalam negeri.

Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero), Fajar Harry Sampurno mengatakan, kondisi pertumbuhan ekonomi stagnan dan peran sektor industri manufaktur terus menurun selama 20 tahun terakhir.

“Kondisi ini bukan hanya di Barata, tapi di industri manufaktur secara keseluruhan,” ujarnya dalam acara Ngopi BUMN yang diadakan di Kementerian BUMN, Jumat (21/2/2020).

Menurut Harry,  salah satu penyebab menurunnya penggunaan produk manufaktur dalam negeri yaitu skema investasi yang berupa paket. Artinya, selain membawa modal, investor juga membawa barang untuk pengerjaan proyeknya di Indonesia, sehingga tidak ada kesempatan untuk perusahaan lokal.

“Padahal perusahaan manufaktur dalam negeri juga mampu menyediakannya,” katanya.

Selain itu, belum ada kesadaran mengenai pentingnya produksi dalam negeri. Apalagi untuk barang-barang manufaktur yang tidak terlihat langsung.

“Macam turbin, bogie (chasis kereta), itu kan tidak terlihat. Orang tidak sadar, kalau itu dibikin di Indonesia, maka akan terjadi lapangan kerja,” ujarnya.

Atas dasar itu, Harry meminta keberpihakan pemerintah kepada industri manufaktur nasional. Salah satunya dengan memberlakukan skema Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) agar dapat memberikan celah bagi pelaku lokal.

Dengan adanya TKDN, produksi dalam negeri akan meningkat karena mau tidak mau harus ada komponen-komponen yang tadinya diimpor kini harus dibuat di dalam negeri demi memenuhi standar minimal TKDN.

“Ke depan diharapkan kalau ada investasi ke Indonesia, produksi peralatan dan perlengkapan dari Indonesia saja,” harapnya.

Baca Juga:  OJK Menyangkal Tidak Kerja dan Didahului Kejagung

Harry berharap, hal tersebut nantinya juga dapat memperluas serapan produk dari perusahaan manufaktur lokal di pasar dalam negeri karena menurutnya selama ini produk mereka lebih banyak diekspor.

“Saat ini (contohnya) untuk produk bogie kami (chasis kereta) 80% ekspor, cuma 20 persen di dalam negeri. Untuk turbin malah 90%, jadi hanya 10% saja yang diserap di sini,” bebernya.

Saat ini, PT Barata Indonesia sendiri memproduksi komponen kereta api yakni bogie atau chasis kereta serta komponen power plant berupa low pressure turbine dan gas turbine. Barata juga mengekspor produknya ke belasan negara seperti Taiwan, Sudan, UEA, Arab Saudi, Korea, China, Filipina, Australia, Amerika Serikat, Meksiko, dan negara-negara Eropa.

Continue Reading

POPULAR