Connect with us

Dunia

22 Juta Orang Indonesia Kelaparan di Era Jokowi

Restu Fadilah

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Sebanyak 22 juta orang Indonesia masih menderita kelaparan di era Joko Widodo (Jokowi). Angka ini diperoleh berdasarkan hasil riset Asian Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) yang didukung oleh Bappenas.


Dalam laporannya, ADB menyebut bahwa kelaparan yang diderita 22 juta orang tersebut dikarenakan masalah di sektor pertanian, seperti upah buruh tani yang rendah dan produktivitas yang juga rendah.

Untuk mengatasinya, ADB merekomendasikan adanya perubahan strategis dalam investasi pemerintah, perubahan regulasi dan penyuluhan pertanian untuk meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia.

“Menghapus kelaparan di Indonesia memerlukan peningkatan investasi di sektor pertanian dan pedesaan untuk memacu produktivitas, modernisasi sistem pangan dan meningkatkan efisiensi pasar pangan,” kata Mark W. Rosegrant, Peneliti Senior di International Food Policy Research Institute (IFPR) dan Ketua Tim Peneliti pada Laporan ADB tentang Peningkatan Investasi untuk Ketahanan Pangan, dalam keterangan tertulis, Rabu (6/11/2019).

Laporan ini juga mengkaji potensi investasi pertanian untuk menghasilkan pertumbuhan pertanian dan ekonomi yang lebih cepat dan untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Md Abul Basher, spesialis sumber daya alam dan pertanian, SDCC, ADB menyatakan, dari hasil kajian tersebut Indonesia dimungkinkan untuk dapat mengakhiri kelaparan pada tahun 2034. Caranya adalah dengan mengkombinasikan investasi yang lebih tinggi dalam penelitian dan pengembangan pertanian (R&D), infrastruktur irigasi dan efisiensi penggunaan air, serta infrastruktur pedesaan termasuk jalan, listrik, dan kereta api.

Untuk mengakhiri kelaparan di Indonesia, kita harus menargetkan investasi ke arah strategi yang menciptakan potensi terbesar untuk pembangunan dan kemakmuran dan mengalihkan sejumlah dana dari wilayah-wilayah yang terbukti kurang efektif,” imbuh Profesor Ekonomi Pertanian di Universitas Lampung Bustanul Arifin.
Realokasi subsidi pupuk untuk investasi pertanian, termasuk R&D pertanian akan meningkatkan produktivitas pertanian, pembangunan ekonomi nasional (PDB) dan mengurangi kelaparan. “Selain mengakhiri kelaparan, skenario investasi komprehensif memiliki manfaat besar secara ekonomi,” katanya.

Adapun Skenario investasi komprehensif ini diproyeksikan akan meningkatkan total manfaat ekonomi sebesar Rp 1,83 triliun pada tahun 2045, atau sekitar USD129 miliar dengan nilai tukar saat ini.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Dunia

3 Tewas Akibat Jembatan Layang Ambruk di China

Dadangsah Dapunta

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Tiga orang dikabarkan tewas dan dua lainnya mengalami cedera berat akibat jembatan layan di Provinsi Jiangsu, China timur mengalami ambruk.

Kejadian yang berlangsung Kamis (10/10/2019) itu tiba-tiba ambruk dan menimpa tiga mobil yang berada di bawahnya.

Selain itu, jembatan yang berada di kota Wuxi itu juga mengunggung tiga mobil dan dua truk.

Pejabat kementerian kota dan transportasi sedang menyelidiki penyebab kecelakaan itu, kata kantor berita Xinhua.

Continue Reading

Dunia

Allianz: Aset Keuangan Swasta Global Rontok

Dadangsah Dapunta

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA -Laporan Kekayaan Global Allianz 2019 yang diterbitkan oleh perusahaan asuransi terbesar Jerman, menunjukkan pada Rabu (18/9/2019) bahwa total aset keuangan swasta dunia pada 2018 menurun untuk pertama kali sejak krisis keuangan 2008.

Dikatakan utuk aset keuangan rumah tangga di seluruh dunia turun 0,1 persen dan mengalami stagnasi pada total 172,5 triliun euro (190,5 triliun dolar AS) pada tahun sebelumnya.

Adapun yang disinyalir menjadi pemicu diantaranya terjadi peningkatan tensi konflik perdagangan, penarikan Inggris dari Uni Eropa, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta pengetatan kondisi moneter dan (pengumuman) normalisasi kebijakan moneter.

Adapun harga saham mengalami penurunan secara global sebesar 12 persen pada 2018.

Namun meskipun terjadi penurunan aset keuangan, tabungan baru mencetak rekor baru, meningkat 22 persen menjadi lebih dari 2.700 miliar euro.

Perkembangan ini didorong terutama oleh rumah tangga AS, yang mampu meningkatkan tabungan mereka sebesar 46 persen berkat reformasi pajak AS pada 2018. Dua pertiga dari semua tabungan dari negara-negara industri berasal dari AS pada tahun sebelumnya.

Rumah tangga Swiss memiliki bagian tertinggi dari aset kotor per kapita dengan 266.318 euro pada 2018, menurut perhitungan Allianz, diikuti oleh Amerika dengan 227.364 euro dan Denmark dengan 156.317 euro.

Allianz mencatat bahwa aset keuangan di negara-negara industri dan berkembang menurun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam sejarah, yang bahkan tidak terjadi selama puncak krisis keuangan pada 2008.

Peristiwa ini menjadi pembalikan yang luar biasa dalam tren karena pertumbuhan aset keuangan di negara-negara miskin telah melampaui rata-rata negara kaya lebih dari 11 poin persentase selama dua dekade terakhir.

Continue Reading

Dunia

Ganggu Pasokan Dunia, Indonesia Kecam Serangan Terhadap Fasilitas Minyak Arab Saudi

Dadangsah Dapunta

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA– Kementerian Luar Negeri menyatakan Indonesia mengecam serangan pesawat nirawak kelompok gerilyawan Houti terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi.

“Indonesia mengecam serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi,” demikian keterangan Kementerian Luar Negeri di laman resmi Kementerian Luar Negeri yang dikutip Senin dini hari (16/9).

Menurut Kementerian Luar Negeri, serangan tersebut membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan serta berdampak negatif terhadap ekonomi global.

Untuk itu, Indonesia menyerukan kembali dialog dan mendukung proses politik di Yaman, di bawah kepemimpinan PBB.

Sebelumnya, Kelompok gerilyawan Yaman (Al-Houthi) menyerang dua instalasi minyak Arab Saudi, Aramco, termasuk instalasi terbesar pemrosesan minyak di dunia, sehingga menyulut kebakaran.

Iran Dibelakang Houthi?
Iran menolak tuduhan yang disampaikan oleh Amerika Serikat bahwa Iran berada di belakang serangan fasilitas-fasilitas Saudi yang mengganggu produksi minyak dunia.

Disisi lain, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu yang mengakibatkan lebih dari setengah produksi minyak Saudi terganggu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan tak ada tanda serangan-tersebut berasal dari Yaman dan menuding Iran melancarkan serangan tak terduga atas pemasokan energi dunia itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi, yang berbicara di TV negara, menolak tudingan AS tersebut. Seorang komandan senior Pengawal Revolusi memperingatkan bahwa Iran siap untuk berperang “dengan skala penuh” dan aset-aset militer AS berada dalam jangkauan peluru-peluru kendali Iran.

“Siapa saja harus tahu bahwa semua pangkalan Amerika dan kapal-kapal induk mereka yang berada dalam jarak 2.000 kilometer sekitar Iran berada dalam jangkauan peluru-peluru kendali kami,” kata Kepala Korps Pasukan Antariksa Pengawal Revolusi Amirali Hajjzadeh, yang dikutip kantor berita semi resmi Tasnim.

Perusahaan minyak Saudi Aramco mengatakan serangan-serangan itu mengurangi keluaran sebanyak 5,7 juta barel per hari, atau lebih 5 persen dari pasokan minyak mentah dunia pada saat ketika Aramco berusaha keras untuk memasarkan di pasar saham.

Aramco tidak menyebutkan jadwal waktu kapan keluaran minyaknya akan kembali normal tetapi mengatakan pada Ahad pagi pihaknya akan menyampaikan informasi terkini dalam sekitar 48 jam. Satu sumber yang dekat dengan masalah itu mengatakan kepada Reuters, diperlukan waktu “beberapa pekan bukan beberapa hari” untuk kembali ke kapasitas minyak penuh.

Arab Saudi, eksporter minyak terbesar di dunia, mengapalkan lebih 7 juta barel minyak ke tempat-tempat tujuan di seluruh dunia tiap hari, dan selama bertahun-tahun telah bertindak sebagai pemasok jalan terakhir ke pasar-pasar.

Continue Reading

POPULAR