Connect with us

News

Jaga Jarak Karena Corona, Wanita Ini Malah Diserobot saat Antre

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Pemahaman masyarakat Indonesia perihal jaga jarak untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona nampaknya belum begitu baik. Buktinya, masih ada saja orang yang menyerobot baris antrean. Seperti yang dirasakan oleh Linda (27), salah satu karyawan perusahan swasta di Jakarta.

Pada Senin, (23/3/2020) malam, Linda mengaku tengah membeli sesuatu di salah satu mini market dekat tempat tinggalnya. Khawatir akan penyebaran virus corona, ia pun memberlakukan jaga jarak saat antre menuju kasir.

Ia menjaga jarak sekitar satu meter dengan orang yang berada di depannya. Alih-alih pembeli lain menerapkan hal yang serupa, ia justru malah diserobot.

“Saya jaga jarak sekitar 1 meter dengan orang yang di depan, tapi malah diserobot sama pembeli lain,” katanya kepada Korporat.com di Jakarta, Selasa, (24/3/2020).

Hal serupa dirasakan juga oleh Santi (28). Bedanya, saat itu ia tengah mengantre untuk mengambil uang melalui mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Peristiwa kurang mengenakan itu terjadi pada Minggu, (23/3/2020).

“Saya jaga jarak sekitar 1 meter dengan orang di depan, karena dia lama, akhirnya saya nyender dulukan ke tembok. Tapi orang dari belakang tiba-tiba nyerobot ngantri,” katanya dengan nada kesal.

Perlu diketahui saat ini pemerintah terus melakukan antisipasi untuk mencegah penyebaran virus corona. Beberapa diantaranya memberlakukan social distancing atau jaga jarak. Jadi masyarakat diminta untuk saling berjaga jarak di ruang publik.

Hal ini dilakukan lantaran korban virus corona terus bertambah dengan cepat. Data per Senin, (23/3/2020), Jumlah pasien positif terinfeksi virus corona di Indonesia kembali bertambah menjadi 579 orang. Korban meninggal pun meningkat jadi 49 orang, sedang yang sembuh mencapai 30 pasien.

Baca Juga:  Parah! Pasien Corona Bertambah Jadi 514, 48 Orang Meninggal Dunia

News

Tanggap Darurat DKI Jakarta Diperpanjang Sampai 19 April 2020

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang masa status tanggap darurat bencana Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 menjadi 19 April 2020 mendatang. Sebelumnya, pemprov menetapkan status berakhir hingga Minggu, 5 April 2020 depan.

Dengan perpanjangan masa status ini, otoritas Ibu KOta RI ini meminta penutupan tempat wisata serta penutupan lokasi hiburan. Selain itu, kegiatan belajar-mengajar di sekolah juga masih ditiadakan hingga masa tanggap darurat berakhir.

“Kami perlu menyampaikan kepada masyarakat di Jakarta bahwa pembatasan tetap berjalan. Karena itu, status Tanggap Darurat di Jakarta akan kita perpanjang yang semula sampai dengan tanggal 5 April, maka diperpanjang sampai dengan 19 April. Itu artinya kegiatan bekerja dari rumah untuk jajaran Pemerintahan, Polda dan Kodam yang terkait sipil itu akan juga terus bekerja di rumah,” usai pertemuan dengan jajaran Forkopimda, khususnya Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya, pada Sabtu (28/3).

Dengan penetapan status ini, Pemprov mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tinggal di rumah dan tidak bepergian, kecuali untuk kegiatan yang esensial seperti kegiatan yang berkaitan dengan kebutuhan pokok dan kesehatan. Selain itu, masyarakat juga diminta agar tidak meninggalkan Jakarta alias pulang kampung.

“Jadi, saya berharap kepada semuanya ambil sikap bertanggung jawab dengan tetap tinggal di Jakarta dan jangan pulang kampung apalagi bila yang bersangkutan berstatus sebagai orang dalam pemantauan (ODP),” ujar Anies.

Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta sebanyak 603 kasus dengan 62 orang meninggal. Di mana, dari total tersebut terdapat 61 tenaga medis yang terpapar virus.

Baca Juga:  Respon Corona, Perguruan Tinggi NU Gandeng GreatEdu Buat E-learning
Continue Reading

News

Akademisi: Jus Jerus Plus Kulitnya Bisa Tangkal Covid-19

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Kalangan akademisi menilai kulit jeruk mampu dijadikan sebagai makanan untuk menangkal masuknya Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Selama masa berdiam diri di rumah, masyarakat sangat disarankan untuk mengonsumsi jus jeruk sekaligus kulitnya.

“Hesperidin ini disinyalir bisa memberikan perlindungan terhadap mikroba dan virus. Di manakah kita bisa mendapatkan senyawa ini? Senyawa ini banyak ditemukan di kulit buah jeruk,” ujar Prof Irmanida Batubara, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Kepala Pusat Biofarmaka Tropika (TropBRC) dalam keterang pers, Sabtu (28/3/2020).

Hasil penelitian Prof Irmanida dilakukan bersama akademisi yang terdiri dari tim periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Fakultas Farmasi UI, TropBRC, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University.

Kalangan akademisi tersebut telah menemukan senyawa yang berpotensi untuk melawan Covid-19. Senyawa tersebut adalah golongan flavonoid yaitu salah satunya hesperidin yang banyak terdapat dalam kulit jeruk.

“Jadi selama berdiam di rumah, kita dapat membuat jus jeruk dan jangan lupa untuk ditambah sedikit kulit jeruk yang sudah dicuci bersih. Memang akan terasa sedikit pahit. Nah tahanlah sedikit rasa pahit ini karena ini menunjukkan hesperidin ada di dalamnya,” ujar Irmanida.

Menurut dia, bagi warga yang tidak tahan dengan rasa pahit kulit jeruk dapat menggunakan trik lain. Yakni, dengan infus water jeruk dan kulitnya. Dengan begitu, senyawa hesperidin bisa larut dalam minuman tersebut.

Ia menambahkan, semua jenis jeruk mengandung hesperidin. “Jadi tidak harus jeruk buah, kita juga bisa memanfaatkan kulit jeruk nipis, jeruk lemon dan varietas jeruk lainnya,” katanya.

Baca Juga:  Pasien Positif Corona Bertambah Jadi 34 Orang
Continue Reading

News

IDI Sebut Kemungkinan Pasien Corona Sembuh Capai 97%

Published

on

KORPORAT.COM, JAKARTA – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut kemungkinan sembuhnya pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) mencapai 97%. Maka dari itu, masyarakat tidak perlu takut berlebihan menghadapi virus corona.

“Penyakit ini jangan disamakan dengan flu burung yang memiliki angka kematian tinggi. Covid-19 gejala klinisnya ringan, bicara data yang meninggal 3 persen, kemungkinan sembuhnya 97 persen,” papar anggota Satgas Kewaspadaan & Kesiagaan COVID-19 IDI, dokter Erlina Burhan dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Ia juga membandingkannya dengan penyakit-penyakit lain. Angka kematian karena corona tergolong kecil dibanding yang lainnya.

“Banyak penyakit lain kematiannya lebih tinggi, seperti Jantung, Diabetes dan Stroke. Nah, Tubercolosis kematian 98 ribu per tahun, coba dihitung per menit ada berapa orang yang meninggal karena TBC?” sebutnya.

Menurutnya, pasien yang dinyatakan positif terkena corona dalam waktu dekat sudah bisa sembuh dan beraktivitas kembali. Namun, ia mengingatkan untuk tidak membuat stigma negatif dan menerima kembali pasien yang sudah dinyatakan sembuh.

Per Sabtu, (28/3/2020), jumlah pasien positif corona bertambah 109 orang. Dengan demikian, total menjadi 1.155 kasus. Dari jumlah tersebut, 102 orang dinyatakan meninggal dunia dan 59 orang lainnya sembuh.

Baca Juga:  Gara-gara Corona, Bank Mandiri Tutup 287 Kantor Cabang
Continue Reading

POPULAR